Senin, 19 April 2010

Para Jenius Indonesia yang Berada di Luar Negeri

Inilah orang2 “Terbuang” dari Indonesia, semoga dapat membuat kita menjadi termotifasi, langsung saja :

1. March Boedihardjo ==> HONG KONG – Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum

khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun(dari 2007). Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya. ”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya. March memang menempuh pendidikan menengah di Inggris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik. Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut.

2. Prof Nelson Tansu, PhD- Pakar Teknologi Nano ==> Pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur nano. Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt.Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika.Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka. “Apakah tragedi orang tuanya membikin Nelson benci terhadap Indonesia dan membuatnya ingin beralih kewarganegaraan?” “Tidak. Hati Saya tetap melekat dengan Indonesia,” katanya kepada Tempo. Nelson bercerita, sampai kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia.

Minggu, 18 April 2010

Ada "GAYUS" lebih besar di Surabaya.

Universitas Surabaya Kampus Hijau



Ternyata ada "Gayus" juga di Surabaya. Unit Pidana Umum Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya menemukan praktik penggelapan pajak yang angkanya diperkirakan lebih dari Rp 300 miliar.

Praktik tersebut melibatkan sedikitnya sepuluh orang. Di antaranya juru sita dan dua mantan petugas kebersihan di salah satu Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Diperkirakan, terdapat 350 surat setoran pajak (SSP). Ada satu surat setoran wajib pajak yang nilainya mendekati Rp 1 miliar.

"Dugaan sementara, angka kerugian mencapai Rp 300 miliar," papar Kepala Polwiltabes Surabaya Komisaris Besar Polisi Ike Edwin, Minggu (18/4/2010), didampingi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polwiltabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Anom Wibowo di Surabaya.

Pengungkapan ini merupakan pengembangan dari temuan bermodus penipuan dengan kedok jasa pengurusan pajak akhir Maret lalu. Ketika itu, delapan tersangka diamankan karena terlibat praktik penipuan tersebut.

Dia menyebutkan, para tersangka adalah Fatchan (45), Iwan Rosyidi ((28), Mochamad Mutarozikin (33), Gatot Budi Sambodo (42), Herlius Widhia Kembara (26), Totok Suratman (37), dan Moch Soni (35) yang semuanya merupakan pegawai swasta.

Adapun tersangka lain, Siswanto (35), ternyata adalah mantan petugas kebersihan di salah satu KPP di Surabaya. "Selanjutnya kami mengamankan dua tersangka lagi sebagai pengembangan temuan sebelumnya, yaitu Enang Yahyo Untoro (38) dan Suhertanto (33)," papar Edwin.

Kasus ini terungkap ketika wajib pajak bernama David Sentono mendapat surat teguran karena belum melaksanakan kewajiban membayar pajak. Padahal, Direktur PT Putra Mapan Sentosa itu telah meminta bantuan jasa konsultan pajak, Agustri Junaedi, untuk mengurus pajak.

Sebagai penyedia jasa, Agustri memperoleh honor Rp 800.000 per bulan. Selanjutnya, pengurusan pajak tidak ditangani sendiri, tetapi diserahkan ke jasa lain. "Dari korban, kami menemukan surat setoran pajak dengan total nilai Rp 934 juta," ujarnya lagi.

Sumber : Kpmpas
By : Universitas Surabaya Kampus Hijau
 
Free Auto Backlink